“Pertamina tidak boleh hanya menjadi pedagang minyak, berniaga. Mereka juga harus punya visi tentang pengembangan energi terbarukan. Misalnya, PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya), tenaga angin, geothermal, khususnya sampah,” kata Direktur PCC, Bob R Randilawe, dalam rilisnya, Kamis (16/05/13).
“Ada lagi di Bandung, sekitar 4.500 – 5 ribu ton sampah per hari dengan energi yang dihasilkan sekitar 8 MW,” jelasnya.
Teorinya, makin banyak manusia, makin banyak sampah. Makin banyak sampah, kata Bob, berarti sumber energinya makin banyak.
“Masalahnya hanya di teknologinya,” imbuhnya.
Bagi aktivis Pro Demokrasi (Prodem) tersebut, banyak manfaat yang didapatkan dari pengelolaan sampah menjadi sumber energi alternatif, selain meminimalisir masalah lingkungan.
“Pertamina menjadi penggerak utama dibidang energi terbarukan untuk mensukseskan SDG’s (Sustainable Development Goals),” terangnya.
Selain itu, itu untuk merubah citra perusahaan pelat merah tersebut. Selama ini Pertamina dianggap blepotan karena korupsi.
“Nah sekarang, image itu harus diubah. Pertamina dari pedagang minyak dan sumber korupsi, menjadi corporate kelas dunia,” tegasnya.
Di lain hal, menurut Bob, selama ini dirinya menilai dana corporate social responbility (CSR) yang dipimpin Karen Agustiawan itu lebih banyak memberikan ikan dibandingkan pancing kepada masyarakat.
Lebih baik, sebagian digunakan untuk kegiatan proyek-proyek pengembangan energi terbarukan ini.
“Di semua kota besar, masalah sampah menjadi masalah serius. Terlebih, kita juga bayar (uang kebersihan). Bila ini dilakukan, saya yakin justru masyarakat yang dibayar sama pemerintah daerah, seperti di Singapura,” tandasnya.@endang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar